Si Celana Biru

Hilir mudik bak kendaraan bermotor setiap hari di lingkungan tempat kelahirannya,, berbensinkan sebatang rokok hasil dari usaha menadahkan tangan ke orang-orang yang dilihatnya. Toko sembako di sekitar itu merupakan pom bensin terakhir yang akan ia datangi..

Penampilan kesehariannya Bertelanjang dada..hanya menggunakan sepenggal celana biru panjang dengan sebelah kiri tergulung sampai kelutut. Tanpa sebenang karet alas kaki dan berkuku panjang dengan kutikula yang telah menebal dan mengeras.

 

Kehilangan kewarasannya sejak duduk dibangku Sekolah dasar. Sebelumnya dia adalah anak yang super hiperaktif, apa yg dilakukannya sering membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Hingga sebuah keputusan yang fatal dari Orangtua nya, mengajak si celana biru ke seseorang yang disebut ‘orang pintar’ …
 

 

Balada Kesunyian

angin berhembus kuat malam itu..
kepingan nafasmu yang terakhir dibawa pergi olehnya…

kini kau baring.. terbujur kaku tak berdaya.. kulitmu begitu dingin. .

mereka memanggil namamu berkali-kali, bahkan teriakan hingga tangisan tak membuat kau mengedip biar sekali…
tatapanmu kosong,,
wajahmu tanpa ekspresi sama sekali..

tahukah kau….
rumah ini begitu ramai,, mereka datang hanya untuk melihatmu..
untuk menyapamu walau kau tak membalasnya, untuk mendoakanmu untuk kehidupanmu selanjutnya…

dilokasi penguburanmu pun masih ramai..
mereka hanya datang untuk mengantarmu, mendoakanmu,,
kau melihat semuanya kan??
mereka begitu mencintaimu…
Tapi, sang Pencipta lebih mencintaimu dari semua cinta yang mereka berikan…

saatnya mereka pulang.
toh merekapun mempunyai urusan masing-masing..
sedangkan kau???

Kau sendiri… hanya sendiri… di lubang sempit itu,, di lubang yang dipenuhi tanah lembab dengan cacing tanah, semut, & kelabang..
tidak seorangpun yang akan menolongmu..
kecuali amal perbuatanmu saat didunia..
juga do’a-do’a yang mereka panjatkan kepada sang Pencipta…

Aku dan Canon in D

Tiga hari berturut-berturut.. tak pernah ku ingin mengakui kalau ini adalah suatau kesialan beruntun!!.. ku tanamkan kuat-kuat dalam hatiku “keberuntungan kali ini memang terbatas”…

Tapi hati dan pikiran memang seringkali  berbeda  kawan..  pikiran-pikiran negatif seperti

“ini akibat kesalahan masa lalu mu!”

“dia memang kejam! Tak ada yang bisa dilakukan”

“sekuat apapun kau berusaha, sepintar apapun kau menyusun strategi, segalanya tak kan berjalan lancar”

“apapun alasan yang akan kau lontarkan kepadanya, mulutmu terkatup. Karena setiap poin alasan akan menjadi senjata untuk membunuhmu”.

 

Tiga Hari.. ,  aku menjadi korban kediktatoran …

selama ini pula aku hanya tertunduk dan berhadapan dengan monitor 14” mendengarkan  berbagai macam melodi yang ada di folder musik untuk melampiaskan semua amarah dan kekesalan dengan volume maksimal. Ballad, blues, jazz, classic, R n B, regee, rock, atau yang lagi tren saat ini -digital music- lewat begitu saja, sampai akhirnya aku mendengar melodi itu,, ya.. semua alat music, semua jenis music, kalau melodinya  adalah melodi ini bisa membuatku meredam akan semua kemarahan,  kebingungan  dan semua kekecewaan itu.

Melodi yang selalu bisa menggantikan memori buruk dalam kepalaku menjadi kenangan indah yang pernah ku lewati… melodi Johan Pachelbel, Canon in D….

kini kumengerti bahwa semua yang terjadi adalah  hidup yang harus kujalani… yang membuatku mengerti bahwa semua warna yang ku buat akan indah bila  hitam adalah latarnya….  Dan semua alat music yang ku mainkan adalah melodi canon in D….

Bahkan sebelum di akhir hari ini,, terbentuk senyuman dalam hatiku.. jika esok masih terjadi hal ini,, ingatlah,,, klik play now pada  file canon in D-johan pachelbel.. ^_^

 

Tentang Selembar Kertas Tisu

Tiba-tiba saja hujan  membasahi seluruh kota…

Angkutan umum kota atau yang biasa kita kenal dengan ‘angkot’ segera saja banjir penumpang, tidak terkecuali aku.

Sedikit sial mungkin… satu-satunya tempat di angkot yang kosong telah basah (percikan air dari celah jendela yang kurang rapat).  Tak apalah pikirku, pak supir pasti punya lap. hm… dengan sabar kutarik selembar tisu dari tas tanganku setelah mendengar jawaban supir yang sangat mengecewakan.

Sepasang mata murni itu menatap apa yang sedang kupegang (selembar tisu kotor yang kupakai tadi belum lepas dari tanganku).

Mata kamipun bertatapan (ya.. kau bisa rasakan apabila seseorang sedang melihatmu),… dan terjadilah percakapan senyap itu.

“apa yang kau pikirkan?” tanyaku.

“kenapa kertas tisunya tidak langsung dibuang saja??” balasnya.

“mau buang kemana??? ni angkotkan blom punya tong sampah.”

“buang saja, dari tadi juga penumpang yang lain begitu, ada yang buang lewat pintu angkot , juga banyak yang meletakkannya dibawah kursi mereka.”

Benar saja. dibawah terdapat banyak lembaran tisu dan beberapa kemasan minuman…. kembali kami dalam percakapan senyap..

“tapi bagaimana mungkin mereka melakukannya. Apalagi banyak anak-anak juga pengguna angkot, termasuk kamu.”

aku bertanya lagi “apa yang kamu pikirkan??”

“yang aku pikirkan dari tadi adalah apa  yang akan kamu lakukan dengan kertas tisu kotor ditanganmu?”

“kita tunggu sampai angkot berhenti dekat tong sampah”

beberapa menit berlalu…………….

angkot tak kunjung berhenti baik untuk singgah di pompa bensin maupun sekedar menurunkan penumpang….

kalau dibiarkan, kertas tisu ini bisa kering ditangan.. kami bertatapan lagi

“jadi? apa yang akan kamu lakukan??” tanyanya.

Aku takkan menyerah. Kalaupun anak-anak lain sudah terpengaruh untuk buang sampah sembarangan, setidaknya anak yang satu ini tidak.

Kubuka tas tanganku (pakai tangan kanan tentu saja), ku lepas kertas tisu dari bungkusannya. Ku masukkan kertas tisu yang kotor tadi kedalam bungkusan kertas tisu yang telah kosong, lalu kuletakkan dalam kantong kecil tas tanganku bagian luar. beres!!

Kembali kami bertatapan. “bagaimana?” tanyaku.

dan dia pun tersenyum–